Aku baru pulang dari Sumba dan sampai sekarang masih suka bengong sendiri kalau kebetulan buka galeri foto. Anehnya bukan karena tempatnya mewah — justru kebalikannya. Sumba itu panas, jalanannya panjang banget, warung susah dicari kalau sudah masuk area bukit, dan sinyal hilang timbul sesuka hati. Tapi ada sesuatu di sana yang bikin kepala jadi jauh lebih enteng daripada waktu berangkat.
Kalau kamu lagi nyari tempat di Indonesia yang belum berubah jadi pabrik konten, ini salah satu yang masih tersisa.
Kenapa Sumba, padahal ada Bali dan Lombok
Jujur, awalnya aku ke Sumba karena tiketnya lagi murah dan temanku maksa. Ekspektasiku rendah. Yang kubayangkan cuma padang rumput kering seperti di foto-foto pariwisata, terus sudah, pulang.
Baca juga: Moms, Liburan ke Danau Toba Itu Gak Serumit yang Dibayangkan
Baca Juga: isakperfume.com
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Ternyata yang bikin beda itu ritmenya. Di Bali kamu bisa sarapan di kafe estetik, siang surfing, sore ke beach club, malam masih sempat nongkrong. Di Sumba, satu hari cuma cukup buat dua sampai tiga titik. Jarak antar tempat bisa satu setengah sampai dua jam, dan itu pun lewat jalan yang kadang cuma muat satu mobil. Awalnya aku kesal. Hari ketiga, aku malah menikmatinya. Perjalanan panjangnya jadi bagian dari liburannya sendiri: kuda lepas di pinggir jalan, anak-anak melambai dari halaman rumah, bukit yang warnanya berubah tiap jam.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Ikut merasakan sendiri betapa serunya kalau kamu ada di dalamnya!
Satu hal yang perlu kamu siapkan dari awal: Sumba bukan destinasi buat orang yang maunya serba cepat. Kalau kamu tipe yang panik lihat itinerary kosong, kemungkinan besar bakal frustrasi di sini.
Bukit Wairinding dan pelajaran soal jam berangkat
Wairinding itu bukit bergelombang di Sumba Timur yang sering nongol di foto-foto orang. Aku sempat mikir bakal biasa saja karena sudah kebanyakan lihat gambarnya. Salah besar.
Kesalahan pertamaku: datang jam sebelas siang. Panasnya luar biasa, rumputnya kelihatan pucat, dan aku cuma bertahan dua puluh menit sebelum kabur ke mobil. Besoknya aku balik lagi jam setengah lima sore, dan itu tempat yang benar-benar berbeda. Cahayanya keemasan, bayangan bukitnya jadi berlapis-lapis, dan angin sorenya enak banget. Aku duduk di sana hampir satu jam tanpa ngapa-ngapain.
Kalau cuma punya satu kesempatan ke Wairinding, buang jadwal siangmu. Datang sore, titik.
Biasanya ada anak-anak lokal yang datang menawarkan diri jadi pemandu kecil-kecilan atau sekadar nemenin ngobrol. Kasih uang seikhlasnya kalau kamu merasa terbantu, tapi jangan kebiasaan bagi-bagi permen atau uang ke semua anak yang lewat — itu kebiasaan turis yang efeknya kurang bagus buat mereka jangka panjang.
Barang yang kusesali karena nggak kubawa
- Topi lebar dan sunscreen — matahari Sumba beda level, aku gosong dalam dua hari
- Air minum stok banyak — di antara titik wisata jarang ada warung
- Uang tunai — ATM cuma ada di Waingapu dan Tambolaka, dan banyak tempat belum terima transfer
- Powerbank — bukan buat gaya, tapi karena kamera dan GPS bikin baterai habis cepat
- Sepatu yang nggak licin — beberapa jalur turun ke pantai berbatu dan berpasir
Weekuri, laguna yang warnanya nggak masuk akal
Pindah ke sisi barat, ada Danau Weekuri. Secara teknis ini laguna air asin yang terpisah dari laut oleh dinding karang, jadi airnya tenang tapi tetap asin dan segar. Warnanya toska terang, dan waktu aku ke sana kejernihannya sampai kelihatan dasar karangnya dari atas.
Aku sempat curiga foto-foto di internet kena filter berlebihan. Ternyata nggak. Yang jarang diceritakan orang justru bagian dinding karangnya: kalau kamu naik ke sisi luar, di baliknya ada laut lepas yang ombaknya besar dan menghantam batu. Kontrasnya lucu — di sebelah sini tenang buat berenang, di sebelah sana ganas.
Tips kecil dari kesalahanku sendiri: karangnya tajam, jangan nekat nyeburin diri tanpa alas kaki. Aku sok-sokan lompat dari platform kayu dan naiknya susah setengah mati karena pegangannya batu semua.
Ratenggaro dan obrolan yang masih kuingat sampai sekarang
Bagian favoritku ternyata bukan pemandangannya, tapi kampung adatnya. Ratenggaro punya rumah beratap menara tinggi menjulang, sebagian tingginya lebih dari lima belas meter. Di halaman kampung ada kubur batu megalitik yang umurnya ratusan tahun, dan orang-orang masih hidup di sekitarnya seperti biasa — jemuran, ayam, anak kecil main bola.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Aku ngobrol lama dengan salah satu bapak di sana soal alasan atapnya dibuat setinggi itu. Katanya bagian teratas rumah adalah tempat benda-benda leluhur disimpan, jadi tinggi bukan soal gaya, tapi soal urutan mana yang paling dihormati. Sederhana, tapi entah kenapa itu yang paling nempel di kepalaku sepulang dari Sumba.
Beberapa hal yang sebaiknya kamu jaga saat masuk kampung adat:
- Minta izin sebelum motret rumah, apalagi motret orang
- Ada biaya masuk sukarela lewat buku tamu — isi dengan wajar, jangan pelit dan jangan sok dermawan
- Jangan duduk atau naik ke atas kubur batu, itu bukan properti foto
- Pakai baju yang sopan, ini kampung yang masih dipakai, bukan museum
Kasaran biaya dan waktu
Buat gambaran, aku di sana enam hari dan habis sekitar tiga jutaan di luar tiket pesawat, sudah termasuk sewa mobil plus sopir sekitar tujuh ratus ribu per hari yang dibagi bertiga, penginapan sederhana di Waingapu dan Tambolaka, plus makan. Sewa mobil kelihatan mahal kalau sendirian, tapi jujur ini bukan tempat buat coba-coba motoran sendiri kalau kamu belum kenal medannya.
Kalau waktumu cuma empat hari, saranku pilih satu sisi saja: timur untuk bukit dan kampung adat, atau barat untuk pantai dan laguna. Nekat gabung dua-duanya dalam waktu singkat cuma bikin kamu menghabiskan hidup di dalam mobil.
Yang paling kubawa pulang dari Sumba bukan foto, tapi kebiasaan baru: berhenti mengukur liburan dari berapa banyak tempat yang berhasil dicentang. Aku ke sana buat lihat bukit, dan yang kudapat malah satu minggu tanpa notifikasi, sore yang panjang, dan obrolan sama orang yang hidupnya jauh berbeda dari hidupku. Kalau kamu punya jatah cuti dan lagi bingung mau ke mana, coba pertimbangkan pulau yang satu ini sebelum semua orang tahu.